TAUFIK AKBAR HASIBUAN

Guru Alif alif adalah sebutan untuk para guru yang mengajari baca Tulis Alquran. Belajar untuk terus menjadi manusia yang berguna bagi orang lain. Saat ini akti...

Selengkapnya
Navigasi Web
Ambulan Masjid
Foto Ilustrasi

Ambulan Masjid

AMBULAN MASJID

Tantangan Menulis Hari ke 28

#TantanganGurusiana

Pasar Binanga adalah salah satu desa Di Kecamatan Barumun Tengah Kabupaten Padang lawas, menjadi Ibu Kota kecamatan Barumun Tengah, sekaligus sebagai Pusat ekonomi di wilayah Kecamatan Barumun tengah. Memiliki luas 15,51 KM² dengan Jumlah Penduduk 3143 jiwa. (Sumber BPS PALAS 2017) Saat ini di pimpin oleh Kepala Desa Amril Fauzi Hasibuan. hasil Pilkades 2019 lalu, dan merupakan desa terpadat penduduknya di wilayah kecamatan Barumun Tengah.

Untuk memudahkan administrasi pemerintahan, dibagi menjadi 5 lingkungan. Meskipun belum menjadi kelurahan, Lingkungan I. Sepanjang jalan lintas Binanga Sibuhuan, lingkungan II seputaran Pasar, Lingkungan III, diseputaran Lapangan Bola Pasar Binanga, Lingkungan IV, dan menjadi lingkungan terluas berada diseputaran komplek MTSN Binanga atau komplek Kantor Jaga PLN dan lingkungan V Disebut dengan nama Kampung Teladan.

Pasar Binanga memiliki beberapa Tempat Ibadah, dengan perincian 1 buah Masjid, 3 Mushollah. didesa ini juga ada 3 Sekolah Dasar, 1 SMP, 1 Tsanawiyah. Pusat pemerintahan kecamatan juga berada diwilayah desa Pasar Binanga. Begitu juga dengan Kantor Pos, Bank Sumut, Bank BRI pada umumnya masyarakat merupakan petani, meskipun banyak yang bekerja disektor lain.

Sebagai daerah berkembang tentunya perubahan sosial tidak bisa dihindari, meskipun masih diikat oleh adat istiadat, pranata sosial di tengah tengah masyarakat lambat laun semakin menipis dikalangan masyarakat. Sebagai pusat ekonomi, menjadi pemicu terjadinya penyimpangan sosial. Apalagi penyebaran Informasi yang cukup cepat, Kehidupan ekonomi masyarakat menjadi alasan tersendiri sehingga lambat laun, rasa kekeluargaan semakin pupus di tengah zaman.

Jika tidak disikap dengan segera, tentunya akan menambah catatan degradasi kebersamaan di tengah masyarakat. Baik oleh tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah sebagai basis kekuatan masyarakat yang memiliki power itu, mereka yang menggiring opini publik untuk kesejahteraan bersama. tentunya pada ranah masing masing. Tokoh Adat menjaga kearifan lokal, sebagai warisan leluhur yang harus dipertahankan, meskipun ada beberapa sisi tertentu yang mengikuti perkembangan zaman. Pemerintah juga harus sigap merespon kebutuhan masyarakat yang berasal dari latar belakang yang berbeda agar jurang perbedaan sosial tidak semakin dalam. Demikian halnya dengan Para tokoh tokoh Agama, harus berinovasi terus mengawal dan menjaga kerukunan antar ummat, atau antara penganut ummut yang lain, meskipun secara statistik Pasar Binanga 90% menjadi wilayah muslim.

Atas Dasar inilah, Para pengurus Masjid atau yang lebih dikenal dengan BADAN KENADZIRAN MASJID (BKM) harus mampu membaca peluang dan berinovasi untuk kemakmuran masyarakat. Kemakmuran masjid bukan hanya berbicara tentang bangunan masjid yang megah, full AC, atau yang memiliki KAS Masjid ratusan Juta rupiah. Tapi bagaimana para pengurus masjid bisa menjadikan Masjid sebagai pusat peradaban, pusat perkembangan masyarakat sekaligus menjadi pelayan masyarakat dalam hal urusan keberagamaan tentunya.

Desa Pasar Binanga yang memilki jumlah penduduk 3 ribuan, tentu bukan hal yang mudah untuk mengelola Kenadziran Masjidnya. Dimana Desa ini hanya memilki satu masjid Jami' sebagai satu satunya tempat pelaksanaan sholat jum'at atau tempat pelaksanan kegiatan keagamaan lainnya. Apalagi kondisi wilayah yang cukup luas, sangat memungkinkan terjadinya gesekan gesekan di tengah masyarakat. Pengurus BKM harus menjadikan Masjid betul betul menjadi pusat pengembangan dan kemakmuran masyarakat desa Pasar binanga.

Melihat kondisi ini, maka lahirlah sebuah inisiatif para pengurus untuk membantu masyarakat, dalam hal pengadaan mobil Ambulan Jenazah. Didasari faktor lokasi masjid yang tepat berada di tengah Desa, dan juga lokasi Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang cukup jauh, sehingga terkadang sangat menyusahkan bagi masyarakat dalam hal proses penguburan mayit, tidak semua masyarakat bahkan 80 % masyarakat belum memiliki Mobil pribadi yang bisa digunakan untuk membawa jenazah. Bagi yang sudah punya kenderaan pribadi tentu ini ini tidak soal, yang jadi persoalan bagaimana dengan masyarakat menengah kebawah yang belum punya kenderaan pribadi.

Di gotong ramai-ramai?

Jarak tempuh yang cukup jauh, hampir 1 km dari perkampungan penduduk menjadi alasan paling mendasar tentang hal ini. Dari rumah kemasjid, dari masjid kerumah cukuplah jauh. Kembali kepada masyarakatnya, tokoh agama, tokoh adat, dan unsur pemerintah menyikapi soal ini. Sebagai salah satu pengurus BKM Masjid Baiturrahman Pasar Binanga, sudah layaklah kita kembangkan inovasi ini.

Setidaknya membantu sesama, ketika mereka tertimpa musibah. Agar bisa membawa mereka berobat tanpa mengeluarkan recehan membayar ambulan, dan juga membantu masyarakat menggotong mayat ketika ada yang meninggal dunia.

Di kobun kobun

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Itu soal teknisnya. Kita mengharapkan setiap desa memiliki ini, meskipun bukan dikolala oleh BKM.

11 Feb
Balas

Setuju. Adanya ambulance setidaknya dapat membantu sesama, ketika mereka tertimpa musibah. Agar bisa membawa mereka berobat tanpa mengeluarkan recehan membayar ambulan, dan juga membantu masyarakat menggotong mayat ketika ada yang meninggal dunia.

11 Feb
Balas

Sebenarnya ini ide biasa. Dan untuk mengaplikasikannya tidak terlalu ribet. Kembali kepada kepdes dan BPD nya. Mobil pribadi atau ambulan yang lebih utama

11 Feb

Kalau aku kepikiran kok ada aza ide ambulan masjid jadi bahan tulisan Mantaap kalau penulis Harusnya jadibwartawan juga Income dobel Guru.dan Wartawan

11 Feb
Balas

Udah kok bu, kita kontributor disalah satu media cetak, plus sering juga nongol di Kompasiana. Heeee

11 Feb

Sayangnya, masih jauh panggang dari api...

11 Feb
Balas

Panggangnya dah ada, apinya dah nyala. Tinggal angkat panggangan ke atas api, sama yang jagain biar tidak gosong.

11 Feb

Bukankah lebih baik jika ambulance itu disediakan pemerintah desa dan untuk masyarakat desa? Dananya bisa diambil dari DD atau lewat bantuan Pemkab/pihak lain.Soalnya bantuan Pemdes utk mesjid itu skrg sulit menemukan nomenklaturnya di APBDes, sebab urusan keagamaan tidak bisa ditangani desa. Selain itu masalah perawatan dan pengelolaannya juga perlu dipikirkan, jika memungkinkan sebaiknya diambil dari DD juga.Intinya, itu ambulance milik desa tapi boleh saja dititip di mesjid.

11 Feb
Balas
search